Jumat, 26 Oktober 2018


PANDANGAN ISLAM TENTANG MANUSIA
      A.  KEDUDUKAN SIFAT MANUSIA
      1. KEDUDUKAN MANUSIA
       
-          Manusia Sebagai Abdullah
            Manusia sebagai abdullah (sebagai hamba Allah) yaitu harus selalu patuh dan taat atas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh membangkang kepada-Nya. Dalam hal ini, manusia mempunyai dua tugas yaitu: pertama ia harus beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit (shalat, puasa, haji, dsb.) maupun luas (melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan secara vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk memperoleh keridhaan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan Hadist.
            Sebagai seorang hamba, manusia harus melaksanakan tugas penghambaan diri kepada Allah SWT, dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun. Ia harus senantiasa beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan rida Allah. Ia harus selalu menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya, sebagai wujud syukur kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan.
            Di dalam Al-Qur’an S. Ad-Dzariat ayat 56 disebutkan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Ku”.[2] Ayat ini menjelaskan mengenai tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT sebagaiKhalik. Tujuan tersebut juga mengandung arti bahwa manusia harus senantiasa taat dan patuh kepada segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ini merupakan tugas manusia sebagai seorang hamba.           
            Allah dengan ajaranNya Al-Quran menurut sunah rasul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah untuk berlaku adil dan ihsan. Oleh karena itu, tanggung jawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kemungkaran yang mengancam diri dan keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan shalat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran (Fakhsyaa’wal munkar). Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari umat yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.

-          Manusia Sebagai Khalifatullah
            Kata khalifah diambil dari kata kerja khalafa yang berarti “mengganti dan melanjutkan”. Ini menjelaskan bagaimana kepemimpinan dalam rumusan Islam diberi titel kahlifah. Abu Bakar r.a telah menggantikan Nabi saw setelah beliau meninggal dunia, maka Abu Bakar telah disebut sebagai Khalifah Rasulullah. Dengan mengambil contoh ini maka arti kedua, “melanjutkan” tidak dipakai dan istilah khalifah memberi pengertian “pengganti” kedudukan Rasulullah saw.[4]
            Untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah fi al-ard, maka ia harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan tugasnya itu. Untuk itulah manusia diciptakan dilengkapi dengan akal dan kemampuan untuk berfikir, dengan demikian ia dapat menjadi wakil Allah di muka bumi, dengan bekal akal yang dapat di gunakan untuk mengetahui bentuk dan sifat berbagai ciptaan Allah di muka bumi. Sebagai khalifah manusia diperintahkan untuk menjaga kelestarian dan bukan melakukan kerusakan di muka bumi.
Pengangkatan manusia sebagai khalifah ini difirmankan Allah dalam QS.Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engaku dan mensucikan Engkau?” Tuhaan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[5]
                Khalifah dalam ayat di atas dapat di artikan sebagai pemimpin, artinya Allah menjadikan manusia sebagai penguasa di bumi. Penguasa dalam hal ini adalah mereka yang berhak memanfaatkan dan membuat tatanan kehidupan di muka bumi dan bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kelestarian alam semesta.
            Sebagai seorang khalifah manusia bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan kemaslahatan makhluk-makhluk Allah yang lain di bumi, baik yang bernyawa maupun tidak. Dengan demikian manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai karakteristik alam yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.Untuk dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan baik, manusia memerlukan ilmu pengetahuan alam untuk memanfaatkan alam dan menjaga kelestarianya.
  

    2. SIFAT-SIFAT MANUSIA MENURUT ISLAM
       -      Lemah
            Manusia merupakan makhluk yang lemah. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 28 bahwa “karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah”.
-          Mudah Terperdaya
            Manusia juga memiliki sifat mudah terperdaya. Setan dan iblis merupakan dua jenis makhluk yang tugasnya menggoda manusia agar terperdaya dan masuk neraka. Sifat mudah terperdaya ini dijelaskan dalam QS. Al-Infithar ayat 6 “Hai, Manusia, apa yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap tuhanmu yang maha pemurah?”

-          Susah Bersyukur

            Sifat lain manusia yang tersirat di dalam Alquran adalah susah bersyukur. Hal ini tercantum dalam QS. Ibrahim ayat 34, “Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat suka menempatkan sesuatu pada bukan tempatnya lagi sangat tidak menghargai nikmat Tuhannya”.

-          Mudah Putus Asa

Putus asa merupakan sikap mudah menyerah, tidak tangguh dalam berjuang, dan tidak  memiliki keinginan lagi untuk bangkit. Sifat putus asa dalam diri manusia ini tercantum dalam QS. Hud ayat 9, “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”.

-          Suka Tergesa-gesa

            Manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat tergesa-gesa. Tergesa-gesa dalam hal apa pun, termasuk tergesa-gesa dalam berdoa dan ingin segera dikabulkan. Sifat tergesa-gesa atau terburu-buru ini tercantum dalam QS.  Al Isra ayat 11, “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan, dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”.                    Dalam surat Al-Anbiya ayat 37 juga dijelaskan “Jenis manusia diciptakan terburu-buru dalam segala halnya, Aku (Allah) akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaanku, maka janganlah kamu meminta disegerakan”

-          Mudah Lalai

            Banyak manusia yang lebih mengutamakan urusan duniawi daripada urusan ukhrowi atau akhirat. Hal ini merupakan contoh bentuk kelalaian manusia. Sifat mudah lalai ini tercantum dalam QS. Ar-Rum ayat 7, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia. Sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.”

-          Suka Berlebihan

            Manusia juga memiliki sifat berlebihan dan melampaui batas. Hal ini termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 87, “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

-          Sombong

            Manusia juga memiliki sifat sombong atau suka berbangga diri dan menganggap remeh orang lain. Padahal Allah SWT sangat membenci hambanya yang sombong. Dalam Alquran disebutkan “Dan apabila dikatakan kepadanya “Bertaqwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah 206)
-          Kikir
            “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.”(QS. Al-Isra’: 100)
-          Suka berangan-angan
            Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu”.(QS. Al-Hadid: 72)

-          Zalim dan Bodoh
            “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianati, dan dipikullah amanata itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)

-          Suka Mengeluh
Manusia itu suka mengeluh atau berkeluh kesah “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (QS. Al-Ma’arij: 20)
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan”. (QS. Al-Fushilat: 20)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan appabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”. (Al-Isra’: 83)


 B.  PROSES PENCIPTAAN MANUSIA MENURUT KONSEP AL-QUR’AN


 .مَكِينٍ قَرَارٍ فِي نُطْفَةً جَعَلْنَاهُ ثُمَّ .طِينٍ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ الْإِنْسَانَ خَلَقْنَا وَلَقَدْ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. al-Mukminun [23]: 12–14)


C. KARAKTERISTIK MANUSIA

-          Aspek Kreasi

            Apapun yang ada pada tubuh manusia sudah dirakit dalam suatu tatanan yang terbaik dan sempurna. Hal ini bisa dibandingkan dengan makluk lain dalam aspek penciptaannya. Mungkin banyak kesamaan, tetapi anggota-anggota tubuh pada manusia bersifat lebih fungsional daripada organ-organ tubuh makhluk lainnya.
Allah berfirman dalam QS. al-Tin ayat: 4.
لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ۬
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk" (QS. al-Tin: 4)

-          Aspek Ilmu

            Hanya manusia yang mungkin punya kesempatan memahami lebih jauh hakikat alam semesta di sekelilingnya. Pengetahuan hewan hanya terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa dikembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Tetapi manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang.
Firman Allah:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا
"Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) keseluruhannya... (QS. al-Baqarah: 31)

-          Aspek Kehendak

            Manusia memiliki kehendak yang menyebabkan bisa mengadakan pilihan-pilihan dalam hidup. Makhluk lain hidup dalam satu pola yang telah baku dan tak pernah berubah. Para malaikat yang mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong dan maksiat, misalnya. Manusia memiliki kehendak untuk memilih berbagai alternatif yang akan berujung kepada tanggungjawab:
إِنَّا هَدَيۡنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرً۬ا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya (manusia) jalan yang benar, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur..." (QS. al-Insan: 3).

-          Pengarahan Akhlak

            Manusia adalah makhluk yang dapai dibentuk akhlaknya. Ada manusia yang sebelumnya baik-baik, tetapi karena pengarah lingkungan tertentu dapat menjadi seorang penjahat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu lembaga-lembaga pendidikan diperlukan manusia untuk mengarahkan kehidupan generasi yang datang.


D. MISI DAN FUNGSI PENCIPTAAN MANUSIA
-          Sabiqun bil khairat 
            Sabiqun bil khairat yaitu orang-orang yang lebih dahulu melakukan perbuatan baik. Hamba Allah yang termasuk dalam kategori ini adalah hamba yang tidak hanya puas melakukan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan olehNya, namun ia terus berlomba dan berpacu untuk mengaplikasikan sunah-sunah yang telah digariskan. Mereka lah orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan, yang tujuan nya adalah mencari ridho Allah Swt. Mereka menyedekahkan harta dan jiwa raga mereka di jalan Allah Swt.
-          Muqtasid
            Muqtasid yaitu orang-orang pertengahan, maksudnya pertengahan disini adalah, orang-orang yang berada di tingkatan kedua setelah "sabiqun bil khairat ". Muqtasid merupakan orang orang yang biasa biasa saja di dalam melakukan perbuatan baik. Bahkan bisa di katakan orang orang yang menunda nunda pekerjaan, atau tidak bersegera di dalam melakukan perbuatan baik. Orang-orang muqtasid biasanya cukup merasa puas ketika telah melaksanakan kewajibannya dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt tanpa melaksanakan sunah. Maka hasil dari perbuatan orang-orang "muqtasid" berbeda dengan hasil orang-orang "sabiqun bil khairat
-          Dzalimun linafsihi
            Dzolimun li nafsihi  yaitu orang-orang yang mendzolimi dirinya sendiri. Orang tersebut sering mencampuradukan antara yang hak dan yang bathil. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang orang yang tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul nya dengan baik. Bahkan mereka menyimpang dari yang di perintahkan Oleh Allah dan RasulNya.


E. TAHAPAN KEHIDUPAN MANUSIA
-          Alam Ruh
            Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).
            Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuannya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR Bukhari)
-          Alam Rahim
            Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah manusia ke dunia.
            Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan Muslim)
            Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)
Setelah mencapai 6 bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke dunia dalam keadaan telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.
-          Alam Dunia
            Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.
            Di dunia inilah manusia bersama dengan jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu ibadah. Dan dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat dimensi; dimensi tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai sebuah kesempatan atau target waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.
            Allah Ta’ala telah melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan ingkar terhadap pedoman hidup tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya ketimbang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.
            Maka, orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.
            Perjalanan hidup manusia di dunia akan berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati, apakah itu pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan meninggalkan segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal shalihnya berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Kematian bukanlah akhir kesudahan manusia, bukan pula tempat istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup berikutnya.
            Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia. Utopia belaka. Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka atau tidak suka.
-          Alam Barzakh
            Fase berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka tinggal sendiri. Yang akan menemaninya adalah amal mereka sendiri. Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan mengetahui nasibnya ketika mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli surga atau ahli neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa surga akan mereka rasakan. Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya neraka.
            Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan Allah memerintahkan pada malaikat: “Catatlah kitab hambaku ke dalam ’illiyiin dan kembalikan kedunia.” Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan kuburnya, dan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik, dan aroma yang baik. Lelaki itu adalah amal perbuatannya.
-          Alam Akhirat (Hari Akhir)
            Dan rihlah berikutnya adalah kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya. Kehidupan hari akhir didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa kerusakan total seluruh alam semesta. Peristiwa setelah kiamat adalah mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam as. sampai manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Saat itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar satu mil, sehingga mengalirlah keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada, bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.
            Dalam kondisi yang berat ini manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan dari kesulitan yang maha berat itu. Tetapi semuanya tidak ada yang dapat menolong. Dan terakhir, hanya Rasulullah saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan mahsyar. Rasulullah saw. sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan memuji-muji-Nya. Kemudian Allah swt. berfirman: “Tegakkan kepalamu, mintalah niscaya dikabulkan. Mintalah syafaat, pasti diberikan.” Kemudian Rasululullah saw. mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Rabb, umatku.” Dan dikabulkanlah pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk kemudian melalui proses berikutnya.
            Peristiwa berikutnya adalah hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi manusia. Ada yang mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan dengan sangat teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab yang mudah dan hanya sekadar formalitas. Bahkan sebagian kecil dari orang beriman bebas hisab.
Di antara pertanyaan yang akan diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan masalah prinsip dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan melangkah kaki anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya, dan apa yang diamalkan dari ilmunya.” (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga dilakukan proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang menzhalimi.
            Kejadian selanjutnya manusia harus melalui shirath, yaitu sebuah jembatan yang sangat tipis dan mengerikan karena di bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati jembatan ini dari mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan manusia melewati jembatan itu sesuai dengan amalnya di dunia. Ada yang lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang lewat seperti kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi banyak juga yang berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka jahanam.
            Bagi orang-orang yang beriman, akan minum telaga Rasulullah saw. yang disebut Al-Kautsar. Rasulullah saw. bersabda: “Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PANDANGAN ISLAM TENTANG MANUSIA       A.   KEDUDUKAN SIFAT MANUSIA       1. KEDUDUKAN MANUSIA         -           Manusia Sebaga...