PANDANGAN ISLAM TENTANG MANUSIA
A. KEDUDUKAN SIFAT
MANUSIA
1. KEDUDUKAN MANUSIA
-
Manusia
Sebagai Abdullah
Manusia sebagai abdullah (sebagai hamba Allah) yaitu harus
selalu patuh dan taat atas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya
maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh membangkang
kepada-Nya. Dalam hal ini, manusia mempunyai dua tugas yaitu: pertama ia
harus beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit (shalat, puasa, haji,
dsb.) maupun luas (melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan secara
vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk
memperoleh keridhaan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan
Hadist.
Sebagai seorang
hamba, manusia harus melaksanakan tugas penghambaan diri kepada Allah SWT,
dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun. Ia harus senantiasa beribadah kepada
Allah dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan rida Allah.
Ia harus selalu menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya, sebagai wujud syukur
kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan.
Di dalam
Al-Qur’an S. Ad-Dzariat ayat 56 disebutkan “Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan untuk menyembah Ku”.[2] Ayat
ini menjelaskan mengenai tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, yaitu
untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT sebagaiKhalik. Tujuan
tersebut juga mengandung arti bahwa manusia harus senantiasa taat dan patuh kepada
segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ini merupakan tugas
manusia sebagai seorang
hamba.
Allah dengan
ajaranNya Al-Quran menurut sunah rasul, memerintahkan hambaNya atau Abdullah
untuk berlaku adil dan ihsan. Oleh karena itu, tanggung
jawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri maupun
terhadap keluarga. Dengan berpedoman dengan ajaran Allah, seorang hamba
berupaya mencegah kekejian moral dan kemungkaran yang mengancam diri dan
keluarganya. Oleh karena itu, Abdullah harus senantiasa melaksanakan shalat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran
(Fakhsyaa’i wal munkar).
Hamba-hamba Allah sebagai bagian dari umat yang senantiasa berbuat kebajikan
juga diperintah untuk mengajak yang lain berbuat ma’ruf dan mencegah
kemungkaran (Al-Imran : 2: 103). Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang
senantiasa tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.
-
Manusia
Sebagai Khalifatullah
Kata khalifah diambil dari kata kerja khalafa yang
berarti “mengganti dan melanjutkan”. Ini menjelaskan bagaimana kepemimpinan dalam rumusan
Islam diberi titel kahlifah. Abu Bakar r.a telah menggantikan Nabi saw setelah
beliau meninggal dunia, maka Abu Bakar telah disebut sebagai Khalifah Rasulullah.
Dengan mengambil contoh ini maka arti kedua, “melanjutkan” tidak dipakai dan
istilah khalifah memberi pengertian “pengganti” kedudukan Rasulullah saw.[4]
Untuk melaksanakan tugasnya
sebagai khalifah fi al-ard, maka ia harus memiliki pengetahuan
berkaitan dengan tugasnya itu. Untuk itulah manusia diciptakan dilengkapi
dengan akal dan kemampuan untuk berfikir, dengan demikian ia dapat menjadi
wakil Allah di muka bumi, dengan bekal akal yang dapat di gunakan untuk
mengetahui bentuk dan sifat berbagai ciptaan Allah di muka bumi. Sebagai
khalifah manusia diperintahkan untuk menjaga kelestarian dan bukan melakukan
kerusakan di muka bumi.
Pengangkatan
manusia sebagai khalifah ini difirmankan Allah dalam QS.Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:” mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engaku dan
mensucikan Engkau?” Tuhaan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.[5]
Khalifah
dalam ayat di atas dapat di artikan sebagai pemimpin, artinya Allah menjadikan
manusia sebagai penguasa di bumi. Penguasa dalam hal ini adalah mereka yang
berhak memanfaatkan dan membuat tatanan kehidupan di muka bumi dan bertanggung
jawab atas kesejahteraan dan kelestarian alam semesta.
Sebagai seorang khalifah manusia
bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan kemaslahatan makhluk-makhluk
Allah yang lain di bumi, baik yang bernyawa maupun tidak. Dengan demikian
manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai karakteristik alam
yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.Untuk dapat menjalankan tugas
kekhalifahannya dengan baik, manusia memerlukan ilmu pengetahuan alam untuk
memanfaatkan alam dan menjaga kelestarianya.
2. SIFAT-SIFAT MANUSIA MENURUT ISLAM
-
Lemah
Manusia
merupakan makhluk yang lemah. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam
surat An-Nisa ayat 28 bahwa “karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah”.
-
Mudah Terperdaya
Manusia juga memiliki sifat mudah
terperdaya. Setan dan iblis merupakan dua jenis makhluk yang tugasnya menggoda
manusia agar terperdaya dan masuk neraka. Sifat mudah terperdaya ini dijelaskan
dalam QS. Al-Infithar ayat 6 “Hai, Manusia, apa yang telah memperdayakanmu
(berbuat durhaka) terhadap tuhanmu yang maha pemurah?”
-
Susah Bersyukur
Sifat lain manusia yang tersirat di
dalam Alquran adalah susah bersyukur. Hal ini tercantum dalam QS. Ibrahim ayat
34, “Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat suka menempatkan sesuatu pada
bukan tempatnya lagi sangat tidak menghargai nikmat Tuhannya”.
-
Mudah Putus Asa
Putus
asa merupakan sikap mudah menyerah, tidak tangguh dalam berjuang, dan
tidak memiliki keinginan lagi untuk bangkit. Sifat putus asa dalam diri
manusia ini tercantum dalam QS. Hud ayat 9, “Dan jika Kami rasakan kepada
manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut
daripadanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”.
-
Suka Tergesa-gesa
Manusia merupakan makhluk yang
memiliki sifat tergesa-gesa. Tergesa-gesa dalam hal apa pun, termasuk
tergesa-gesa dalam berdoa dan ingin segera dikabulkan. Sifat tergesa-gesa atau
terburu-buru ini tercantum dalam QS. Al Isra ayat 11, “Dan manusia berdoa
untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan, dan adalah manusia
bersifat tergesa-gesa”.
Dalam surat Al-Anbiya ayat 37 juga dijelaskan “Jenis manusia diciptakan
terburu-buru dalam segala halnya, Aku (Allah) akan memperlihatkan tanda-tanda
kekuasaanku, maka janganlah kamu meminta disegerakan”
-
Mudah
Lalai
Banyak manusia yang lebih
mengutamakan urusan duniawi daripada urusan ukhrowi atau akhirat. Hal ini
merupakan contoh bentuk kelalaian manusia. Sifat mudah lalai ini tercantum
dalam QS. Ar-Rum ayat 7, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari
kehidupan dunia. Sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.”
-
Suka
Berlebihan
Manusia juga memiliki sifat
berlebihan dan melampaui batas. Hal ini termaktub dalam surat Al-Maidah ayat
87, “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik
yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
-
Sombong
Manusia juga memiliki sifat sombong
atau suka berbangga diri dan menganggap remeh orang lain. Padahal Allah SWT
sangat membenci hambanya yang sombong. Dalam Alquran disebutkan “Dan apabila
dikatakan kepadanya “Bertaqwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya yang
menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan
sungguh neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS.
Al-Baqarah 206)
-
Kikir
“Katakanlah: “Kalau seandainya kamu
menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan
itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat
kikir.”(QS. Al-Isra’: 100)
-
Suka
berangan-angan
Orang-orang munafik itu memanggil
mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama
dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri
dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan
kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah
oleh (syaitan) yang amat penipu”.(QS. Al-Hadid: 72)
-
Zalim dan Bodoh
“Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianati,
dan dipikullah amanata itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim
dan amat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)
(QS. Al-Ahzab: 72)
-
Suka Mengeluh
Manusia
itu suka mengeluh atau berkeluh kesah “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh
kesah” (QS. Al-Ma’arij: 20)
“Manusia
tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi
putus asa lagi putus harapan”. (QS. Al-Fushilat: 20)
“Dan
apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan
membelakang dengan sikap yang sombong; dan appabila dia ditimpa kesusahan
niscaya dia berputus asa”. (Al-Isra’: 83)
.مَكِينٍ قَرَارٍ فِي نُطْفَةً جَعَلْنَاهُ ثُمَّ .طِينٍ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ الْإِنْسَانَ خَلَقْنَا وَلَقَدْ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sungguh, Kami telah
menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).
Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami
menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang
paling baik. (Q.S. al-Mukminun [23]: 12–14)
C. KARAKTERISTIK MANUSIA
-
Aspek Kreasi
Apapun yang
ada pada tubuh manusia sudah dirakit dalam suatu tatanan yang terbaik dan
sempurna. Hal ini bisa dibandingkan dengan makluk lain dalam aspek
penciptaannya. Mungkin banyak kesamaan, tetapi anggota-anggota tubuh pada
manusia bersifat lebih fungsional daripada organ-organ tubuh makhluk lainnya.
Allah berfirman dalam QS. al-Tin ayat: 4.
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
ٱلۡإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٍ۬
"Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk" (QS. al-Tin: 4)
-
Aspek Ilmu
Hanya manusia yang mungkin punya kesempatan memahami
lebih jauh hakikat alam semesta di sekelilingnya. Pengetahuan hewan hanya
terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa dikembangkan melalui pendidikan dan
pengajaran. Tetapi manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus
berkembang.
Firman Allah:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ
ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا
"Dan dia mengajarkan kepada
Adam nama-nama (benda-benda) keseluruhannya... (QS. al-Baqarah: 31)
-
Aspek Kehendak
Manusia memiliki kehendak yang
menyebabkan bisa mengadakan pilihan-pilihan dalam hidup. Makhluk lain hidup
dalam satu pola yang telah baku dan tak pernah berubah. Para malaikat yang
mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong dan maksiat, misalnya.
Manusia memiliki kehendak untuk memilih berbagai alternatif yang akan berujung
kepada tanggungjawab:
إِنَّا هَدَيۡنَـٰهُ
ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرً۬ا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sesungguhnya
Kami telah menunjukinya (manusia) jalan yang benar, ada yang bersyukur dan ada
pula yang kufur..." (QS. al-Insan: 3).
-
Pengarahan Akhlak
Manusia adalah makhluk yang dapai
dibentuk akhlaknya. Ada manusia yang sebelumnya baik-baik, tetapi karena
pengarah lingkungan tertentu dapat menjadi seorang penjahat. Demikian pula
sebaliknya. Oleh sebab itu lembaga-lembaga pendidikan diperlukan manusia untuk
mengarahkan kehidupan generasi yang datang.
D. MISI DAN FUNGSI PENCIPTAAN MANUSIA
-
Sabiqun bil khairat
Sabiqun bil khairat yaitu orang-orang
yang lebih dahulu melakukan perbuatan baik. Hamba Allah yang termasuk dalam
kategori ini adalah hamba yang tidak hanya puas melakukan kewajiban dan
meninggalkan hal-hal yang diharamkan olehNya, namun ia terus berlomba dan
berpacu untuk mengaplikasikan sunah-sunah yang telah digariskan. Mereka lah
orang-orang yang berlomba-lomba di dalam kebaikan, yang tujuan nya adalah
mencari ridho Allah Swt. Mereka menyedekahkan harta dan jiwa raga mereka di
jalan Allah Swt.
-
Muqtasid
Muqtasid yaitu orang-orang
pertengahan, maksudnya pertengahan disini adalah, orang-orang yang berada di
tingkatan kedua setelah "sabiqun
bil khairat ". Muqtasid merupakan orang orang yang biasa biasa
saja di dalam melakukan perbuatan baik. Bahkan bisa di katakan orang orang yang
menunda nunda pekerjaan, atau tidak bersegera di dalam melakukan perbuatan
baik. Orang-orang muqtasid biasanya cukup merasa puas ketika telah melaksanakan
kewajibannya dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt tanpa
melaksanakan sunah. Maka hasil dari perbuatan orang-orang "muqtasid"
berbeda dengan hasil orang-orang "sabiqun
bil khairat
-
Dzalimun
linafsihi
Dzolimun li nafsihi yaitu orang-orang yang mendzolimi dirinya
sendiri. Orang tersebut sering mencampuradukan antara yang hak dan yang bathil.
Sifat ini hanya dimiliki oleh orang orang yang tidak melaksanakan perintah
Allah dan Rasul nya dengan baik. Bahkan mereka menyimpang dari yang di
perintahkan Oleh Allah dan RasulNya.
E.
TAHAPAN KEHIDUPAN MANUSIA
-
Alam Ruh
Persiapan pertama, Allah mengambil
perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada
di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan
dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al
A’raf: 172).
Dengan kesaksian dan perjanjian ini
maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah
beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum:
30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka
kedua orang tuannya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi.” (HR
Bukhari)
-
Alam
Rahim
Rihlah pertama yang akan
dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari
berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh
dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka
lahirlah manusia ke dunia.
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari
kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah,
kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama,
kemudian mudghoh selama hari yang sama.
Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat;
ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam
keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami
telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada
pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat
bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah
bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang
indah.” (Al-Hajj: 5)
Setelah
mencapai 6 bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal
sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke dunia
dalam keadaan telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.
-
Alam
Dunia
Di dunia perjalanan manusia melalui
proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh
menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini
tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang
kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat
masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah
remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.
Di dunia inilah manusia bersama dengan jin mendapat taklif (tugas)
dari Allah, yaitu ibadah. Dan dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia
dibatasi oleh empat dimensi; dimensi tempat, yaitu bumi sebagai tempat
beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai sebuah kesempatan atau target
waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan
dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.
Allah Ta’ala telah melengkapi manusia dengan perangkat
pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah
telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai
penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas tanpa
keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan
ingkar terhadap pedoman hidup tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya
ketimbang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat
dan menyesatkan.
Maka, orang yang bijak adalah orang yang senantiasa
mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktifitas yang
tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah
orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan
amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak
menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang
dibenci (makruh) dan haram.
Perjalanan hidup manusia di dunia akan berakhir dengan
kematian. Semuanya akan mati, apakah itu pahlawan ataukah
selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau rakyat, kaya atau miskin,
tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan meninggalkan segala sesuatu
yang telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan oleh manusia tidak akan
berguna, kecuali amal shalihnya berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang
bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian adalah penghancur kelezatan dan
gemerlapnya kehidupan dunia. Kematian bukanlah akhir kesudahan manusia, bukan
pula tempat istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari
kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal
perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup berikutnya.
Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu fase
dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek,
sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang,
kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan kenikmatan yang
belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh
pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian
dan ingin hidup di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia.
Utopia belaka. Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka atau tidak
suka.
-
Alam
Barzakh
Fase berikutnya manusia akan
memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka tinggal sendiri. Yang
akan menemaninya adalah amal mereka sendiri. Kubur adalah taman dari
taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan
mengetahui nasibnya ketika mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli
surga atau ahli neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan
baginya pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa surga akan mereka rasakan.
Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan
untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya neraka.
Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang
diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang
mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa
kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas kepalanya dan
memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut
oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit.
Penduduk langit dari kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir
bertemu Allah dan Allah memerintahkan pada malaikat: “Catatlah kitab hambaku ke
dalam ’illiyiin dan kembalikan kedunia.” Maka dikembalikan lagi ruh itu ke
jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu?
Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka
kemudian diberi alas dari surga, mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu
dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan kuburnya, dan mendapat teman yang
baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik, dan aroma yang baik. Lelaki itu
adalah amal perbuatannya.
-
Alam
Akhirat (Hari Akhir)
Dan rihlah berikutnya adalah
kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya. Kehidupan hari akhir
didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa
kerusakan total seluruh alam semesta. Peristiwa setelah kiamat adalah mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam
as. sampai manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia
dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.
Saat itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar satu mil, sehingga mengalirlah
keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang sampai pergelangan
kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada,
bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.
Dalam kondisi yang berat ini manusia
berbondong-bondong mendatangi para nabi untuk meminta pertolongan dari
kesulitan yang maha berat itu. Tetapi semuanya tidak ada yang dapat menolong.
Dan terakhir, hanya Rasulullah saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan
mahsyar. Rasulullah saw. sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan
memuji-muji-Nya. Kemudian Allah swt. berfirman: “Tegakkan kepalamu, mintalah
niscaya dikabulkan. Mintalah syafaat, pasti diberikan.” Kemudian Rasululullah
saw. mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Rabb, umatku.” Dan dikabulkanlah
pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk kemudian melalui proses
berikutnya.
Peristiwa berikutnya adalah hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi manusia. Ada yang
mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan dengan sangat
teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab yang mudah dan hanya
sekadar formalitas. Bahkan sebagian kecil dari orang beriman bebas hisab.
Di
antara pertanyaan yang akan diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan
masalah prinsip dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan melangkah
kaki anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang
umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang
hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya, dan apa yang
diamalkan dari ilmunya.” (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga dilakukan
proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang menzhalimi.
Kejadian selanjutnya manusia harus
melalui shirath, yaitu sebuah jembatan yang sangat tipis dan
mengerikan karena di bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati
jembatan ini dari mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut, lebih tajam
dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan manusia melewati jembatan itu sesuai dengan
amalnya di dunia. Ada yang lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang
lewat seperti kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi
banyak juga yang berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka
jahanam.
Bagi orang-orang yang beriman, akan
minum telaga Rasulullah saw. yang disebut Al-Kautsar. Rasulullah saw. bersabda:
“Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, aromanya
lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang
meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)